Desa Tumpakrejo Tenggelam

Jumat, 09 Maret 2012 03:13
KALIPARE–Ancaman yang dikhawatirkan warga wilayah Semurup, Dusun Krajan I Desa Tumpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, akhirnya terjadi juga. Banjir yang dialami tahun 2010 lalu, kembali terjadi dan lebih parah kondisinya tahun ini. Banjir itu memutuskan jalur trasnportasi menuju Donomulyo.
Hujan deras yang mengguyur semalaman mulai Rabu sore hingga Kamis pagi kemarin, menenggelamkan sedikitnya 16 rumah warga yang ada di wilayah Semurup. Ada beberapa rumah yang nyaris tenggelam. Hanya tinggal atap rumahnya saja yang terlihat di atas air.
“Kondisi terparah mulai malam tadi. Hujan yang tidak berhenti hampir seharian itu mengulang kejadian banjir tahun 2010 lalu, bahkan saat ini lebih parah lagi. Karena jalan lintas menuju Donomulyo tidak dapat dilalui karena tergenang banjir,” kata Kades Tumpakrejo Kecamatan Kalipare, Heru Sembodo kepada Malang Post, kemarin.
Sejak awal, warga sudah bersiap-siap melakukan evakuasi terhadap barang-barang berharga yang ada di dalam rumahnya, termasuk hewan ternak. Saat banjir datang, warga sudah dilakukan evakuasi ke rumah tetangga yang tidak tergenang dan ada juga yang mengungsi ke rumah saudaranya terdekat.
Banjir itu terjadi karena tidak tuntasnya pembangunan sudetan drainase yang dilakukan Pemkab Malang. Saat banjir tahun 2010 lalu, Pemkab Malang melakukan tanggap darurat dengan menggali saluran sudetan yang panjangnya mencapai 300 meter untuk membuang air yang ada di wilayah rendah itu. Untuk membuang air banjir itu hanya melalui sudetan yang dibuang ke Kalipare.
“Jalan satu-satunya untuk dapat mengalirkan air banjir ini hanya dibuang melalui sudetan yang belum tuntas ini. Tapi karena sudah tertutup lagi, kami hanya meminta kepada Pemkab Malang untuk segera menuntaskannya,” terangnya.
Meski sudah digali sudetan, saat ini galian sudetan itu sudah tertutup kembali oleh tanah. Padahal ada galian yang mencapai 25 meter dalamnya untuk mencari titik nol. Jika bekas galian sudetan itu tidak digali kembali, warga Semurup tetap akan merasakan banjir air itu.
“Saya tidak tahu mengapa sudetan itu tidak juga kunjung diselesaikan, padahal kami sudah seringkali menanyakan kepada Pemkab Malang. Alasannya biayanya mahal hingga Rp 2 miliar,” jelasnya.
Untuk membantu masyarakat yang menjadi korban banjir, BPBD dan PMI Kabupaten Malang sudah menurunkan bantuan sembako kepada korban banjir. Meski dapur umum dibangun, tapi tidak banyak warga yang datang ke dapur umum. Karena bantuan sembako sudah langsung diberikan kepada yang bersangkutan.
“Dapur umum ada, tapi tidak didatangi para warga. Bantuan sudah diterima masing-masing warga yang terkena bencana,” terangnya.
Untuk akses jalan ke Donomulyo, pengendara harus memutar sekitar tiga kilometer melalui Desa Putukrejo. Dia hanya berharap untuk tanggap darurat, pemerintah menggali kembali sudetan itu untuk membuang air ke wilayah yang lebih rendah.
Dinas Pengairan Kabupaten Malang, rencana akan membangun sudetan itu pada tahun ini. Saat ini masih dalam tahap penyelesaian administrasi untuk proses lelang. Paling tidak, Juni mendatang baru akan dimulai proses pembangunannya. Padahal, saat ini sudah dibutuhkan masyarakat.
“Anggarannya dari provinsi sebesar Rp 1 miliar. Saat ini masih tahap penyelesaian administrasi untuk lelang,” ujar Kabid PSDA Dinas Pengairan Kabupaten Malang, Anang Udayana. (aim/jon)copy from malang post

Arema Netnab

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.