Nenem ayahab kera ngalam

Chef dan Owner Hungry Kitten Resto, Andre Hedi Setiono
Karir di bidang kuliner, seperti chef, bukan termasuk dalam daftar pekerjaan populer di Indonesia. Padahal jika ditekuni, pekerjaan ini sangat mengasyikkan. Tak hanya bermodalkan kemampuan memasak, tetapi seorang chef juga harus memiliki intuisi yang tinggi dan bahkan paham tentang science. Seperti Andre Hedi Setiono.
Andre memang bukan seorang chef resto hotel berbintang. Ia menjadi chef di resto yang khusus menyajikan menu-menu comfort western, Hungry Kitten. Resto tersebut tak lain adalah milik pria kelahiran Pasuruan itu sendiri.
Meski bekerja untuk restonya sendiri, namun Andre sudah memiliki cukup pengalaman di luar. Bahkan ia mengambil sertifikasi di bidang kuliner di sebuah lembaga khusus kuliner yang berada di Philadelphia Amerika, American Culinary Federation. Untuk mendapatkan sertifikasi tersebut, Andre diwajibkan menuntaskan 6.000 jam kerja.
”Kalau dihitung-hitung, membutuhkan waktu sekitar dua tahun lebih untuk menghabiskan 6.000 jam kerja yang menjadi syarat wajib mendapatkan sertifikasi kuliner. Selama menuntaskan jam kerja itu, saya harus menguasai seluruh posisi di kitchen. Mulai dari yang mudah sampai yang sulit harus lulus,” beber Andre pada Familia Malang Post.
Bapak satu anak ini terjun ke dunia kuliner tanpa sengaja. Awalnya, ia berangkat ke Amerika untuk menempuh studi komputer. Namun setelah mengambil pendidikan bahasa Inggris sebaga salah satu syarat wajib untuk meneruskan kuliah di sana, ia mengaku kemampuannya kurang di bidang tersebut. Andre pun memilih masuk ke jurusan lainnya, yakni manajemen perhotelan.
Saat menekuni kelas yang baru dipilihnya, ayah Feodore Skuratovsky ini ternyata masih kurang sreg. Ketika berada di kelas praktek, yakni menyajikan hidangan untuk tamu, Andre mengaku tidak ada tantangan. Saat melihat piring yang akan disajikan kepada tamu, ia justru tertarik bagaimana cara membuat makanan tersebut.
Pergulatan batin ini membuat ia resah. Namun pada akhirnya, Andre memutuskan untuk pindah jurusan dari manajemen hotel ke chef apprentice di kampus yang sama. ”Kebetulan guru saya di jurusan tersebut adalah salah satu chairman American Culinary Federation. Sehingga saya direkomendasikan untuk bergabung dengan lembaga tersebut dan mengambil culinary sertification selama dua tahun lebih,” paparnya.
Berbekal sertifikasi tersebut, beberapa kali Andre bekerja di resto maupun hotel di Philadephia seperti Desmond Hotel Malvern dan Vallani Tapas Bar and Lounge. Namun karena idealisme-nya kurang tereksplor, alumni SMPK Cor Jesu Malang ini pun memilih membuka resto sendiri ketika pulang ke Indonesia.
Di restonya ini, Andre mengaku bisa mengeksplorasi idealismenya saat berada di dapur. Ia seringkali bereksperimen dengan berbagai bahan yang ada hingga menjadi sebuah sajian yang tak hanya lezat tetapi juga berkelas seperti yang disajikan oleh hotel-hotel berbintang.
Andre mengaku bekerja di dunia kuliner itu adalah sebuah pekerjaan yang dinamis. Tidak stuck di satu titik, tetapi terus berjalan mengikuti perkembangan waktu. Jika melihat buku tentang kuliner di tahun 2004 lalu dibandingkan dengan buku kuliner di tahun sekarang, pasti selalu ada yang berubah. Meski sama-sama burger misalnya, tetapi bisa saja ada perubahan di daging burger atau jenis rotinya.
”Karena itulah, saya menyukai dunia ini. Setiap waktu saya dituntut untuk terus belajar agar tidak ketinggalan dengan perkembangan dunia kuliner,” tegas Andre. (nda)

Tertantang dengan Pekerjaan Personal Chef
Sebelum memutuskan untuk membuka resto sendiri, beberapa kali Andre Hedi Setiono mengajukan lamaran ke resto dan hotel berbintang. Salah satunya adalah Bulgari Hotel and Resort Bali. Di hotel tersebut, lamaran Andre diterima, namun yang membuat menarik ia tidak ditugaskan di dapur hotel, melainkan di dapur rumah sang pemilik hotel.
”Sebenarnya saya mengajukan lamaran seperti biasa. Namun entah kenapa lamaran ini bisa sampai ke tangan pemilik Bulgari langsung. Akhirnya saya dipekerjakan di rumahnya yang ada di Dubai menjadi personal chef,” beber Andre.
Sebagai personal chef, pria berkulit putih ini ditugaskan untuk menyusun menu sarapan, makan siang dan makan malam. Kebetulan saat itu si pemilik Bulgari sedang menjalani diet dan pola makan sehat. Bagi Andre, hal ini merupakan tantangan yang ditunggu-tunggunya sejak lama. Ia bisa mengeksplorasi kemampuannya di bidang kuliner dengan maksimal.
”Setiap hari saya harus berpikir bagaimana menggunakan bahan-bahan yang sehat menjadi makanan yang lezat. Minyak yang digunakan juga pilihan. Benar-benar harus virgin oil. Penyajiannya pun juga ala carte, persis seperti yang disajikan di hotel berbintang,” ungkap pria yang sempat belajar bahasa Inggris di STIBA Jogjakarta ini.
Kondisi tersebut berlangsung selama sekitar dua minggu. Di minggu ketiga, pemilik Bulgari mulai enggan menyantap hidangan sehat yang disajikan oleh Andre. Bukan karena tidak suka, tetapi karena sang pemilik kangen dan ingin menikmati makanan-makanan rumahan seperti biasa. Pria yang pernah tinggal di Lawang Kabupaten Malang ini tak bisa berbuat banyak. Ia pun terpaksa mengikuti kemauan boss-nya itu.
Selama lebih dari sebulan, Andre tak lagi mengeksplorasi kemampuannya dan hanya menuruti keinginan sang pemilik. Karena merasa tak ada tantangan, ia pun akhirnya melepaskan pekerjaan tersebut dan memilih kembali ke tanah air.
”Si pemilik Bulgari juga merasa tidak enak dengan saya. Ia memberi pilihan kepada saya untuk melanjutkan bekerja di tempatnya atau tidak. Ia mengaku sayang jika saya terus-menerus bekerja di rumahnya karena tidak ada tantangan dan karirnya. Karena kami berdua memiliki kesamaan pemikiran, akhirnya saya pun memutuskan untuk mengundurkan diri,” terang Andre. (nda)

Bulan Madu sambil Bekerja
Tak banyak orang yang didukung oleh keluarganya untuk berkarir di bidang kuliner. Pasalnya masyarakat menganggap pekerjaan di dalam dapur bukan pekerjaan yang bergengsi. Namun tidak dengan keluarga Andre Hedi Setiono. Andre mendapat dukungan penuh dari keluarga ketika memilih untuk mempelajari dunia kuliner.
Sang istri, Catharina Debra bahkan tak sekadar memberikan dukungan kepada Andre. Ia juga ikut berkecimpung di dunia yang sama dengan sang suami. Hanya, jika Andre lebih fokus pada menu-menu appetizer dan entree atau main course, Debra pada dessert dan baking product (roti, kue dan cake).
“Kami bekerja bareng di resto. Saya yang menangani menu pembuka dan utama. Kalau Debra, lebih ahli menangani dessert. Bahkan untuk menu yang menggunakan roti dan ice cream, dia membuatnya sendiri,” terang Andre.
Berbeda dengan Andre yang menempuh pendidikan kuliner di Amerika, Debra mendapat ilmu tentang makanan di Indonesia. Saat Andre menyelesaikan studi di American Culinary Federation, ia menjalani pendidikan di jurusan Perhotelan Universitas Petra Surabaya.
Saat Andre bekerja sebagai personal chef di Dubai, Debra juga diajaknya ikut serta khusus untuk membuat menu-menu baking. Ia sengaja mengajukan Debra karena istrinya itu juga memiliki kemampuan di dunia kuliner. Agar bisa membawa Debra ikut serta, Andre pun mempercepat rencana pernikahannya.
“Salah satu alasan mempercepat pernikahan saat itu juga karena adanya tawaran bekerja di Dubai. Dua minggu menjelang jadwal keberangkatan ke Dubai, kami berdua menikah. Di sana, kami tak hanya bekerja tetapi juga memanfaatkan untuk berbulan madu,” ujarnya sembari tersenyum simpul.
Andre dan Debra sendiri bertemu sebelum keduanya menginjak bangku kuliah. Keduanya sempat pacaran tetapi akhirnya putus karena Andre harus melanjutkan studi di Amerika. Begitu lulus dan bertemu kembali, keduanya pun berpacaran lagi dan akhirnya menikah. (nda)

Family Time Sebulan Sekali
Menjalankan usaha resto bersama pasangan tentu bukan hal yang mudah. Begitu juga yang dirasakan oleh Andre Hedi Setiono bersama Catharina Debra. Andre dan Debra harus pandai-pandai mengatur antara waktu untuk mengelola usaha dan waktu untuk keluarga. Apalagi sejak 25 Desember tahun lalu, keluarga kecil Andre dan Debra memiliki anggota baru, Feodore Skuratovsky.
Andre mengatakan, meski sama-sama mengelola resto, tetapi ia tidak memaksakan sang istri untuk meluangkan waktu yang sama dengannya di dapur. Ia yang lebih banyak berada di dapur, sementara sang istri mengurus rumah dan anak semata wayangnya yang baru berusia enam bulan.
”Kalau memang kondisi resto rame dan membutuhkan tambahan tenaga, Debra baru turun tangan. Selebihnya, saya yang meng-handle dan Debra mengurus Feodore,” terang Andre tentang pembagian tugas dengan sang istri.
Meski banyak disibukkan dengan aktivitas di dapur, namun Andre tak kehilangan banyak waktu untuk istri dan anaknya. Sebab restonya sendiri dibangun di rumah tempatnya tinggal. Jika tidak ada pesanan di dapur, biasanya Andre memanfaatkan waktu untuk menjaga si kecil bersama Debra.
Selain itu, pria yang sempat menjabat sebagai SPV Cook saat bekerja di Hotel Desmond Philadelphia itu juga menyisihkan hari khusus untuk keluarga satu bulan sekali. Saat itu, ia menutup resto dan mengajak anak istrinya jalan-jalan. Tujuannya sendiri tak jauh-jauh dari dunia kuliner. Biasanya ia berwisata kuliner ke resto lain untuk menambah ilmu dan informasi.
”Family time kami dilakukan sebulan sekali saat resto libur. Memang tidak seperti keluarga lain yang family time-nya seminggu sekali. Tapi kan sehari-harinya kami sudah berkumpul karena usaha resto ini berada satu tempat dengan rumah. Kalau pas sepi, saya masuk ke dalam (rumah) sebentar dan bermain-main dengan Feodore,” tambahnya.
Di luar aktivitas memasak, Andre memiliki ketertarikan di dunia beladiri. Ia menekuni Thai Boxing sejak sekolah di Amerika. Hanya, karena di Malang olahraga ini masih kurang populer, Andre lebih banyak berlatih sendiri atau sparing dengan kawan yang juga memiliki kemampuan bela diri dari negeri gajah putih tersebut. (nda)

Biodata
Nama: Andre Hedi Setiono
TTL: Pasuruan, 30 April 1984
Pekerjaan: Chef dan Owner Hungry Kitten Resto
Istri: Catharina Debra
Anak: Foedore Skuratovsky

Pendidikan:
-    SDK St Fransiscus Lawang
-    SMPK Cor Jesu Malang
-    SMA PGRI Lawang
-    STIBA Jogjakarta
-    Marshall University (English Leap) Philadelphia
-    Community Collage of Philadelphia, Chef Apprentice
-    American Culinary Federation #sumber malang post

Arema Netnab

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.